Tampilkan postingan dengan label Christian Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Christian Education. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

Interaksi Edukatif Guru PAK

Pengertian
Mengajar bukan tugas yang ringan bagi guru konsekuensi tanggung jawab guru juga berat. Di kelas guru akan berhadapan dengan sekelompok anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya. Karena tugas guru yang berat itu, maka mereka berprofesi sebagai guru harus memiliki dan menguasai serta memahami interaksi edukatif terutama dari aspek alat material serta selalu aktif kreatif menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”.[1]

Dalam menyampaikan bahan pengajaran terkadang kata-kata atau kalimat guru kurang mampu mewakili sesuatu objek yang diberikan. Sehingga mengaburkan tentang objek yang disampaikan. Apalagi objek yang disampaikan itu tidak pernah dikenal oleh anak didik.Dengan demikian, bentuk atau pola interaksi guru dapat menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran. Sebagaimana halnya seperti yang dikemukakan oleh Johnson seperti yang dikutip Anwar mengatakan bahwa kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.[2]Kemudian Arikunto mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.[3]

Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial guru tercermin melalui indikator:
  1. interaksi guru dengan siswa
  2. interaksi guru dengan kepala sekolah
  3. interaksi guru dengan rekan kerja
  4. interaksi guru dengan orang tua siswa
  5. interaksi guru dengan masyarakat
Sehubungan dengan hal di atas, maka dapat dipahami bahwa salah satu unsur kompetensi sosial yang harus diperhatikan guru adalah pola interaksinya dengan siswa. Untuk memahami maksud dalam tulisan ini tentang pola interaksi edukatif guru PAK, maka dalam tulisan ini akan diuraikan pengertian dari masing-masing kata sehubungan dengan judul tulisan.

Dalam Kamus lengkap Bahasa Indonesia, M. Ali menyatakan bahwa pola adalah gambar yang dibuat contoh / model.[4] Selanjutnya, Freeman dalam buku Tavri D. Mahyuzir, mengatakan bahwa Pola adalah suatu aktivitas yang menyangkut dan berhubungan dengan pengamblan keputusan-keputusan utama/pokok, dan seringkali dari sebuah susunan yang dialami yang terbagi atas hubungan timbal balik dari bagian-bagin ditingkatkan yang tertinggi dan operasi-operasi yang logis, yang rumit pada tingkatan yang terendah.[5] Hal ini berarti bahwa pola adalah bentuk dan pengerak informasi tentang metode-metode yang diambil dari pertimbangan bidang informasi.Jika dihubungkan dengan pola interaksi adalah bentuk-bentuk dalam proses terjadinya interaksi.

Sedangkan interaksi adalah adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.[6] Kemudian, Homans dalam Tulisan M. Ali, mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.[7]Konsep ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.

Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator, hubungan antara komunikator dan komunikan biasanya karena mengintegrasikan sesuatu yang dikenal dengan istilah pesan (message) kemudian untuk menyampaikan pesan itu diperlukan adanya media atau saluran, jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi itu adalah komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media begitu juga hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya empat usur terjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.

Dilihat dari istilah komunikasi yang berpangkal pada perkataan communicare berarti berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama.[8]Dengan demikian secara konseptual arti komunikasi itu sendiri sudah mengandung pengertian memberitahukan berita, pengetahuan, pikiran-pikiran nilai-nilai yang dimaksud untuk menggugah partisipasi agar hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. 

Jika dihubungkan dengan istilah interaksi edukatif sebernarnya komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud-maksud tertentu yakni untuk mencapai pengertian bersama yang kemudian untuk mencapai tujuan (dalam kegiatan belajar berarti untuk mencapai tujuan belajar). Memang dalam berbagai bentuk komunikasi yang sekedarnya mungkin tidak direncanakan sehingga tidak jelas arah dan tujuannya, hal inilah yang kadang-kadang sulit dikatakan sebagai interaksi edukatif, dan ini banyak terjadi dalam kehidupan manusia.

Dengan demikian interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif adalah apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik kearah dewasaannya. Selain itu menurut Syaiful Bahri Djamarah, interaksi edukatif juga diartikan interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang, interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai interaksi edukatif.[9]

Dengan konsep yang diterangkan diatas memunculkan istilah guru di satu pihak dan murid dipihak lain, keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan tanggung jawab berbeda namun bersama-sama mencapai tujuan. Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya, sedangkan anak didik berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan bentuan dan pembinaan dari guru.

Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar, yaitusebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan.[10]Dalam interaksi edukatif ada dua buah kegiatan yakni kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan anak didik di lain pihak. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan anak didik belajar dengan gayanya sendiri. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar memahami suasana psikologi anak didik dan kondisi kelas.Dalam mengajar, guru perlu memahami gaya-gaya belajar anak didik. Kerelevansian gaya-gaya mengajar guru dengan gaya-gaya belajar anak didik akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif yang konsif. N.A Ametembun, mengatakan bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasn, keseimbangan, keserasian antara kedua komponen itu, yaitu guru dan anak didik.[11]

Banyak kegiatn yang harus guru lakukan dalam interaksi edukatif, diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif, menyiapkan bahan dan sumber belajar, memilih metode, alat, dan alat bantu pelajaran, memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pelajaran. Semua kegiatan yang di lakukan guru harus di dekati dengan pendekatan sistem. Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah komponen pengajaran. Tidak ada satu pun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam perencanaan pengajaran, karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.

Menurut Syaiful Bahri Dajamarah, guru adalah alah satu unsur manusia lainnya adalah anak didik.[12]Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan tugas dan peranan yang berbeda. Guru mengajar, mendidik dan anak didik yang belajar dengan menerima bahan pengajaran dari guru di kelas.

Indra Djati Sidi menjelaskan bahwa guru yang professional tidak hanya tampil sebagai pengajar (teacher) saja, melainkan juga sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manajer).[13] Muhamad Surya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pelatih adalah guru memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi peserta didik untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sebagai latihan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang sehat. [14]

W. Gulo menjelaskan bahwa ada sepuluh kemampuan dasar bagi guru yang professional, yaitu 1) menguasai bahan, 2) mengelola program belajar mengajar, 3) mengelola kelas, 4) menggunakan media sumber belajar, 5) menguasai landasan pendidikan, 6) mengelola interaksi belajar mengajar, 7) menilai prestasi siswa untuk kependidikan pengajaran, 8) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, 9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan 10) memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.[15].

Depdiknas kompetensi dasar guru professional meliputi tiga komponen, yaitu:

  1. Komponen pengelolaan pembelajaran terdiri atas:
    • penyusunan rencana pembelajaran
    • pelaksanaan interaksi belajar mengajar
    • penilaian prestasi belajar peserta didik
    • pelaksanaan tindaklanjut hasil prestasi belajar peserta didik
  2. Komponen pengembangan potensi diri, terdiri atas:
    • pengembangan diri
    • pengembangan profesi
  3. Komponen penguasaan akademik, terdiri atas:
    • pemahaman wawasan pendidikan
    • penyusunan bahan kajian akademik.[16]
Kesalahan pengertian cendrung terjadi oleh anak didik. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalan tersebut menurut Syaiful Bahri Djamarah adalah guru perlu menghadirkan alat material atau benda-benda yang asli untuk menunjukkan model, gambar, benda tiruan atau menggunakan media lainnya. Seperti radio, tape recorder, televisi dan sebagainya.[17]Dengan penjelasan yang mendekati reatistik ditambah menghadirkan bendanya, maka guru membantu anak didik membentuk pengertian didalam jiwanya terhadap suatu objek. Dengan cara ini guru dapat lebih menggairahkan belajar anak didik dalam waktu yang relatif lama dan cara ini merupakan suatu usaha untuk memancing perhatian anak didik dan merangsangnya untuk berpikir. Dengan demikian otomatis pengaruh yang dirasakan oleh anak didik dikelas adalah ia menjadi berminat, lebih perhatian dan bergairah terus dalam belajar, sehingga hasil yang diharapkan oleh si anak akan lebih baik.Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran akan sulit untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit dan kompleks.

Setiap materi memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi, sehingga pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak membutuhkan media sebagai alat bantu. Tetapi dilain pihak ada bahan pengajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, papan tulis, gambar, diagram slide, grafik video dan sebagainya.Bahan pengajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar diproses oleh anak didik. Apalagi siswa kurang berminat pada bahan pelajaran yang disampaikan.Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan, akibat penjelasan guru yang mungkin sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberi guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya.jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.

Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma, semua norma itulah yang harus guru transfer kepada anak didik, karena itu wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna, interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak didik.[18]

Dalam setiap bentuk interaksi  edukatif  mengandung dua unsur pokok; unsur  teknis dan unsur normatif . Dalam unsur normatif, antara guru ( sebagai pendidik), dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa, terikat dalam situasi, terarah pada satu tujun. pristiwa ini adalah suatu rentetan kegiatan saling mempengaruhi, satu rangkaian  perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan fungsi-fungsi psikis dan pisikdalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju kepada  pembentukan itu sendiri merupakan suatu proses teknis.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.Dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.interaksi belajar mengajar mengandung  suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar (siswa, anak didik, subjek belajar) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan, karena itu, interaksi edukatif adalah sesuatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Ciri-ciri Interaksi Edukatif

Rohani Ahmmad dan Abu Ahmadimenyebutkan bahwa Interaksi Edukatif Guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Interaksi edukatif mempunyai tujuan.Tujuan dalam interaksi edukatif adalah membantu anak didik dalam suatu perkembangan tertentu, inilah yang dimaksud interaksi edukatif sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian, sedangkan unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung. 
  2. Interaksi edukatif memilki bahan/pesanyang menjadi isi interaksi atau sebuah materiDalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa dan disiapkan sebelum berlangsungnya interaksi edukatif sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen pengajaran yang lain.
  3. Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif. Sebagai konsekuensi bahwa anak didik merupakan sentral maka aktivitas anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi edukatif, aktivitas anak didik dalam hal ini baik secara fisik maupun mental aktif inilah yang sesuai dengan konsep Kurikulum.
  4. Guru berperan sebagai pembimbing. Guru berperan sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok, memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar, memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya, membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya, menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya. Dalam penerapannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadei proses interaksi edukatif yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses interaksi edukatif, sehingga guru merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. 
  5. Memiliki metode tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik) batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan, setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan haris sudah tercapai.
  6. Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik. Metode belajar adalah sistem penggunaan teknik-teknik didalam interaksi antara guru dan anak didik dalam progeram belajarmengajar sebagai proses pendidikan. Teknik yang dapat digunakan dalam interaksi dan komunikasi itu antara lain bermain, tanya jawab, ceramah, diskusi, peragaan, eksperimen, kerja kelompok, sosio drama, karya wisata dan modul.
  7. Interaksi diakhiri dengan Evaliuasi. Sebagai alat penilaian hasil pencapaian tujuan dalam pengajaran, evaluasi harus dilakukan secara terus menerus. Evaluasi tidak hanya sekedar menentukan angka keberhasilan belajar tetapi yang lebih penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dari proses interaksi edukatif yang dilaksanakan.[19]
Sedangkan Edi Suardi dalam bukunya Pedagogik merinci ciri-ciri interaksi belajar mengajar sebagai berikut :

  1. Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu.
  2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Sebagai konsekuensi, bahwa siswa merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar.
  5. Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
  6. Di dalam interaksi belajar mengajar dibutuhkan disiplin.
  7. Ada batas waktu.
  8. Dalam kegiatan pengajaran, apa yang dikatakan interaksi edukatif  itu akan berlangsung dengan kegiatan interaksi belajar mengajar.[20]
Dengan demikian, berdasarkan uraian  di atas, terlihat bahwa interaki edukatif memiliki ciri-ciri : sadar tujuan, ada bahan/pesan, ada subjek didik/pengajar, ada guru, ada metode, ada situasi kondusif, ada penilaian.

Faktor-faktor  Interaksi Edukatif

Seperti yang dijelaskan oleh Syaiuful Bahri Djamarah, ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif,diantaranya:
  1. Faktor Tujuan. Dalam tujuan pendidikan atau pengajaran yang brsifat umum atau khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yaitu:
    • tujuan kognitif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengatahuan
    • tujuan afektif, yaitu tuuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai dan alasan
    • tujuan psikomotoric, yaitu tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan berbuat yang menggunakan telinga, tangan , mata, alat indra dan sebagainya.
  2. Faktor bahan/materi/isi. Bahan atau materi pengajaran harus tersusun dengan baik  sehingga dapat mempermudah anak didik mempelajarinya selain itu dapat memberikan gambaran yang jelas sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran. Dalam menentukan materi harus didasarkan pada upaya pemenuhan tujuan pengajaran dengan begitu, pertimbangan penetapan metode atas dasar maeri tidak akan jauh berbeda hasilnya dengan dasar pertimbangan tujuan.
  3. Faktor guru dan peserta didik. Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam interaksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk menyelenggarakan pengajaran sedangkan peserta didik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat dari proses pengajaran.ada bebeapa bidang yang dapat menunjang proses profesionalitas kerja guru, antara lain:
    • Guru harus mengenal peserta didik
    • Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan
    • Guru harus memiliki dasar yang luas tentang tujuan pendidikan atau pengajaran
    • Guru harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang ilmu yang diajarkan. Adapun bagi peserta didik ada beberapa hal yang pelu diperhatikan:
      • Peserta didik harus mendahulukan kesucian jiwa.
      • Peserta didik harus rajin untuk menuntut ilmu, bersedia untuk mencurahkan tenaga, jiwa dan pikiran serta minat dalam berkonsentrasi pada ilmu yag dipelajarinya
      • Tidak sombong atas ilmu yang diperolehnya
      • Peserta didik harus mengetahui kedudukan ilmu yang dipelajarinya
  4. Faktor metode. Metode suatu cara kerja yang sistematik dan umum, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Semakin baik suatu metode semakin baik dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki  relevansi diantaranya:
    • Relevansi dengan tujuan
    • Relevansi dengan bahan/ materi
    • Relevansi dengan kemampuan guru
    • Relevansi dengan keadaan pesert didik
    • Relevansi dengan situasi pengajarar.
  5. Faktor Situasi. Yang disebut situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran termasuk disini adalah keadaan peserta didik keadaaan cuaca, keadaan guru dan keadaan kelas diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan dan ada yang tidak dapat diperhitungkan terhadap situasi yang dapat diperhitungkan guru dpat menyediakan alternatif metode-metode mengajar menurut perhitungan perubahan situasi.adapun situasi yangtidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan yang mendadak atau tiba-tiba diperlukan kecekatan dalam mengambil keputusan terhdap metode yang digunakan.
  6. Faktor Sumber Pelajaran. Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Interaksi edukatif tidaklah berproses dalam kehampaan, tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik . Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses interaksi edukatif.
  7. Faktor Alat dan Peralatan. Alat dan peralatan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Alat dapat dibagi menjadi dua yaitu :\
    • Alat Nonmaterial, yang terdiri dari suruhan , perintah , larangan, nasihat dan sebagainya\
    • Alat material, yang  dapat berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide dan sebagainya.
  8. Faktor Evaluasi. Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi dapat dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan tes lisan. Tujuan evaluasi sendiri untuk:
    • mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
    • memungkinkan guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan.
Proses Interaksi Edukatif

Menurut R D Cornersseperti yang dikutip oleh Abu Ahmadi dan Shuyadi,proses terjadinya interkasi edukatif guru dapat dibagi dalam tiga tahapan, yaitu:
  1. Tahap Sebelum Pengajaran. Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester, program satuan pelajaran (satpel), dan perencanaan program pengajaran. Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan:
    • Bekal bawaan anak didik
    • Perumusan tujuan pembelajaran
    • Pemilihan metode
    • Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar
    • Pemilihan bahan dan peralatan belajar
    • Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik
    • Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia
    • Mempertimbangkan pola pengelompokan
    • Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
  2. Tahap Pengajaran. Dalam tahap ini berlangsung  beberapa interaksi , yaitu: { interaksi antara guru dengan anak didik},{ anak didik dengan anak didik}, {anak didik dalam kelompok} atau {anak didik secara individual}. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini, yaitu :
    • Pengelolaan dan pengendalian kelas
    • Penyampaian informasi
    • Penggunaan tingkah laku verbal non verbal
    • Merangsang tanggapan balik dari anak didik
    •  Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
    • Mendiagnosis kesulitan belajar
    • Memperimbangkan perbedaan individual
    •  Mengevaluasi kegiatan interaksi
  3. Tahap Sesudah Pengajaran. Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. Beberapa perbuatan guru yang dilakukan pada tahap sesudah mengajar, antara lain:
    • Menilai Pekerjaan anak didik
    •  Menilai pengajaran guru
    • Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya.[21]
Bentuk Pola Interaksi Edukatif Guru PAK

Model yang sering dipergunakan untuk mengidentifikasikan dan mengukur variabel interaksi guru-siswa adalah model CHoen dengan dua katagori, yaitu (1) kontak dominasi, dan (2) kontak Integrasi.[22]  Kontak integrasi juga berkaitan dengan reaksi posituf dari guru terhadap ekspresi intelektual emosional siswa.[23]Interaksi guru dengan siswa di kelas akan menunjukkan dominasi, jika tingkah laku guru mendominasi atau kurang memberi kesempatan beriteraksi atas inisiatif siswa. Interaksi integrasi terjadi, jika siswa lebih banyak terlibat interaksi belajar-mengajar atas inisiatif siswa. Di dalam model ini, interaksi dominasi dikatagorikan menjadi 3 sub. Katagori tingkah laku dominan dan interaksi dikatagorikan menjadi 2 sub kategori tingkah laku. Kategori-kategori itu adalah  dominasi dan timbul konflik, dominasi tanpa konflik, dominasi dan kerja sama, Integrasi tanpa kerja sama, Integrasi dan kerja sama.

Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, pola interaksi itu dapat ditandai dengan peranannya dengan aktifitas belajar siswa, seperti:
  1. Guru sebagai guru: pekerjaan utama guru adalah mengajar dan mendidik murid, yang berusaha agar semua muridnya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan dengan baik.
  2. Guru sebagai orang tua: tempat mencurahkan segala perasaan murid, tempat mengadu murid ketika mengalami gangguan. Murid merasa aman dan nyaman ketika dekat dengan guru, bahkan merasa rindu jika tidak bertemu guru. Interaksi guru dan murid bagaikan hubungan orang tua dan anak, hangat, akrab, harmonis, dan tulus.
  3. Guru sebagai teman sejawat: sebagai pasangan untuk berbagai pengalaman dan beradu argumentasi dalam diskusi secara informal. Guru tidak merasa direndahkan jika murid tidak sependapat, atau memang pendapat murid yang benar, dan menerima saran murid yang masuk akal. Hubungan guru dan murid mengutamakan nilai-nilai demokratis dalam proses pembelajaran.
Landasan Teologis Pola Interaksi Edukatif Guru PAK

Alkitab adalah sumber pengajaran mutlak bagi guru PAK. Karenanya Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru juga menyediakan contoh-contoh bagaimana cara dan pola interaksi dengan orang lain. Bahkan Allah sendiri melakukan interaksi dengan orang-orang pilihan-Nya. Seperti contoh, Allah juga pernah berbicara dengan Adam, Nuh, Musa, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan banyak Nabi lainnya dalam Alkitab. Bahkan dengan Yesus sendiri Allah perna melakukan interaksi. Sebagai contoh bentuk-bentuk interaksi itu dapat dilihat pada ayat berikut:
Pada waktu pembaptisan Yesus, sang Bapa bersabda kepadaNya: "Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Luk. 3:22; Mrk. 1:11). Ucapan-ucapan ketika Yesus dipermuliakan (Mrk. 9:7; Luk. 9:35) tampaknya bukan ditujukan kepada Kristus sendiri, melainkan kepada murid-murid. [Dalam kisah Matius tentang pembaptisan itu digunakan bentuk yang sama (Mat. 3:17).] Tetapi, apa pun bentuk komunikasi Yesus dengan sang Bapa, itu sama sekali berbeda dengan yang dimiliki manusia. Tidak seorang pun dapat mengatakan, seperti yang Dia katakan, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh. 10:30), atau yang lebih mengejutkan, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yoh. 14:9).[24]  
Selanjutnya, dalam hal pengajaran, Yesus juga menggunakan pola interaksi edukatif yang berbeda-beda dalam hal pengajaran-Nya. Dalam sebagian kasus, Yesus menggunakan perumpamaan untu k mengajar murid-murid-Nya. Sebaliknya dalam kasus lain, Yesus juga berbicara dengan tegas, serta menggunakan berbagai media untuk menarik perhatian pendengar dan sekaligus menyampaikan maksud-Nya.

Dari uraian ini, dapat ditarik garis besar dari interaksi Yesus dengan manusia atau pendengar-Nya. Pertama, InteraksiYesus menjadi satu dengan ajaranNya. Yesus mengajarkan orang-orang mengunakan berbagai perumpamaan sederhana sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu. Ia menggunakan perumpamaan seperti gembala, kebun anggur, nelayan, dan sebagainya. Perumpamaan-perumpamaan itu mungkin kelihatan sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam. Banyak ahli-ahli saat ini masih terus mengalami kesulitan untuk membuat interpretasi sebenarnya dari apa yang dimaksud oleh Yesus. Karena perumpamaan-perumpamaan itu memiliki makna yang jelas bagi orang sederhana tetapi juga memiliki makna yang makin dalam bila mulai diinterpretasi oleh-oleh para ahli. Makin didalami perumpamaan itu, makin kaya makna yang tersirat di dalamnya, sehingga memukau mereka yang mencoba mendalaminya. Kedua, Yesus menggunakan perumpamaan sebagai alat belajar. Perumpamaan tentang Anak Hilang mengajarkan kepada kita kasih Allah yang tanpa syarat. Allah mengasihi kita tanpa memandang perbuatan masa lalu kita. Ia mengasihi kita bila kita mau datang kepadanya. Perumpamaan tentang Harta Terpendam mengajarkan kepada kita tentang kegembiraan menemukan sesuatu yang terpenting.[25]

Source: 
Dari berbagai Sumber [ada pada Penulis]

Minggu, 27 April 2014

Contoh Pokok Pikiran Tokoh Pendidikan Agama Kristen

Origenes (185-254)

Origenes meyakini bahwa pemikiran manusia juga masih terbatas, sehingga manusia masih memerlukan penyataan dari Allah melalui Alkitab dan Yesus Kristus. Dan dengan segala kemampuannya ia berusaha untuk memahami Alkitabiah sebagai landasan yang kuat, dan asas-asas penafsirannya sudah lama dikenal orang banyak yaitu:
1) Menyelidiki perikop dalam Alkitab untuk memperoleh arti yang wajar, dan 2) Membandingkan isi perikop yang satu dengan perikop yang lainnya yang serupa, sehingga arti dari perikop itu menjadi jelas, sehingga dia menarik kesimpulan bahwa ”Kitab Suci itu disusun oleh Allah dan di dalamnya terdapat arti yang nyata tetapi arti yang lain juga tersembunyi bagi kebanyakan pembaca, sebab itu Alkitab itu merupakan bentuk lahiriah dan misteri-misteri dan juga gambaran-gambaran ilahi”. 

Namun metode penafsiran yang dila lakukan ini merupakan Alegoris yang disebut metode ibarat, maksudnya yaitu bahwa nats Alkitab yang dijelaskannya itu merupakan untuk mendukung pendapat dari penafsir itu sendiri. Menurut Origenes metode alegoris ini sangat tepat untuk membebaskan arti dalam perikop yang tersembunyi. Sehingga salah satu tugas dari seorang guru pendidikan Agama Kristen adalah menolong para pelajar untuk memahami arti yang tersembunyi dalam perikop tersebut melalui pendekatan dengan metode alegoris. Origenes sangat menyadari akan pentingnya kesan pertama yang dibuat oleh seorang guru atas diri seorang pelajar. Sang guru juga harus membuka kemungkinan pengalaman dalam kelas yan g jauh berbeda dan sebisa-bisanya menarik hati para pelajar. Origenes memanfaatkan gaya ucapan yang mendobrak hati para pelajarnya, dalam komunikasinya menyatakan kesan yang seolah-olah ingin sekali berdialog dengan para filsuf. Dan ia juga mengecam semua bentuk kebodohan dan ketidaktahuan karena semuanya itu merupakan orang-orang yang bersangkutan tidak mempergunakan karunia besar yang diberikan oleh Allah yaitu kemampuan berfikir secara rasional.

Agustinus (354-430)

Yang dia jelaskan dalam bidang Pendidikan Agama Kristen terdapat dalam 3 karya, yaitu: 1) De Doctrina Christiana (Ajaran Kristiani), 2) De Magistra (Sang Guru) yang menjadi dialog antara Augustinus dengan Adeodatus, dan 3) De Catechizandis Rudibus (Mengkatekisasi oarang yang belum dididik).

Pemikirannya dalam bidang pendidikan berakar dalam refleksinya sebagai seorang Kristen atas pendidikan yang ia alami dulu, dan bidang filsafat khususnya Plato dan juga misteri anugerah Allah yang dinyatakan melalui Alkitab dan Yesus Kristus. Dalam mengajar bukanlah hanya dengan kata-kata melainkan juga dengan segala apa yang dinyatakan secara batin kepadanya oleh Allah, dan kita harus percaya sebelum kita dapat berfikir secara mendalam dan mengerti. Kutipan dari Augustinus yang terkenal yaitu ”Ya Allah, Engkau telah menciptakan kami bagi Dikau sendiri dan hati kami merasa kurang tenteram sebelum ia berhenti bergumul dan merasa tenteram dalam Tuhan sendiri”. 

Augustinus menyatakan bahwa gaya mengajar yang dipakai seorang guru perlu disesuaikan dengan sifat khas dari setiap pelajar, jd sebelum mengajar setiap pengajar itu haruslah terlebih dahulu mengetahui latar belakang dari masing-masing pelajar, misalnya seperti: pengalaman pedagogisnya, kemampuan intelektualnya, kewargaannya, status ekonominya, panggilan hidupnya, status sosialnya, umurnya dan lainnya. Guru wajib berdialog dengan setiap pelajar agar dia lebih mengenal pelajarnya untuk engetahui pengertian taraf iman Kristennya, dan guru tidak boleh sering-sering mengulang pengetahuan yang sudah pelajar ketahui sebelumnya, berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dan berusaha untuk keserasian antara gaya hidup sendiri dengan pengajarannya. Dan menurut Augustinus Allahlah yang menjadi guru yang utama. Augustinus menentang kecondongan mengotakkan pelajaran dalam yang disebut sebagai ”Sekuler” dan yang disebut ”Agamawi (rohani)”, dan ia tidak setuju dengan pendekatan yang mengajarkan setiap PAK terpisah dengan yang lainnya. Augustinus lebih condong menggolongkan perbuatan hebat Allah yang disaksikan Alkitab dalam masa-masa tertentu, dan perbuatan ajaib Allah tidak berhenti pada penutupan kanon dan Allah masih terlibat dalam gereja dunia. 

Ignatius Loyola (1491-1556)

Semua usaha Ignatius Loyola diarahkan pada satu tujuan yaitu menaklukkan kehendak warga Kristen kepada kehendak Allah dan meyakinkan bahwa Gereja harus terdiri atas anggota yang berdisiplin agar pelayanannya efektif dalam kehidupan rohani. Sesungguhnya tujuan pokok mungkin hanya dicapai secara nisbi oleh kelompok kecil saja namun masih berlaku sebagai daya tarik bagi semua warga gereja yang akan mengakibatkan Persekutuan Kristen menjadi gereja. Tujuan pendidikan agama Kristen menurut Ignatius Loyola yaitu ”Untuk melibatkan para warga muda khususnya dalam latiha-latihan rohani dan intelektual yang memupukkehidupan batiniah dan kognitif, untuk membimbing mereka mengambil bagian dalam kebaktian gereja sehingga rela menaati setiap perintahNya dengan dampaknya yang luas dalam urusan-urusan masyarakat, sampai akhirnya mereka memenuhi alasan terakhir mengapa mereka diciptakan Allah”. Ignatius Loyola menyusun peraturan-peraturan asas umum dalam pendidikan agama Kristen dan yang perlu diperhatikan oleh semua orang yaitu:

  1. Dalam bimbingan pengajar hendaknya setiap pelajar menghubungkan pengalaman belajarnya dengan tujuannya yang terakhir yaitu mengetahui dan mengasihi Allah dan mengalami keselamatan jiwanya. Agar setiap pelajar mampu menguasai vak-vak yang dipelajarinya, baik itu vak sekuler maupun teologis
  2. Dengan sarana pelayanan pedagogisnya diharapkan pelajar dapat tamat dengan bersemangat dan cerdas dengan jumlah yang banyak dan manpu mengkhamiri seluruh masyarakat. 
  3. Diharapkan semua bidang cakup dipersatukan sedemikian rupa sehingga mereka turut memberi sumbangan terhadap pencapaian tujuan kurikulum menyeluruh yaitu pandangan Kristen terhadap kehidupan.
  4. Pokok-pokok iman Kristen adalah hal yang paling penting karena isinya adalah dasar bagi kehidupan Kristen yang dipersatu-padukan. Perguruan tinggi harap mengambil bagian dalam mendukung tujuan kompi Yesus secara umum. 
  5. Bimbingan pada wadah pendidikan Yesuit hendaknya mencakup hal-hal intelektual dan moral agar para pelajar hidup dengan moral yang baik.
  6. Diharapkan bagi setiap pengajar hendaknya berminat terhadapa setiap pelajar sebagai seorang diri sehingga akan berlangsung dengan baik. 
  7. Sekolah-sekolah Yesuit hendaknya menyampaikan warisan budaya dari masa lampau kepada para pelajar.
  8. Para pengelola sekolah-sekolah Yesuit harap tetap waspada terhadapa gaya mengajar dan hendaknya selalu menerapkan prosedur dan metode pedagogisnya dengan keadaan khusus yang diperhadapkan kepadanya oleh tempat dan juga orang-orang
  9. Sang pengajar utama yang diakui yaitu Tuhan sendiri namun Dia bekerja dengan pengajaran dengan status baik awam maupun imam.
  10. Persiapan mereka ketat dan diharapkan pula supaya mereka bertumbuh terus secara intelektual dan rohani dan diharapkan mereka selalu waspada dengan pendekatan lain dari sumber manapun.

Yesus Sebagai Pendidik

Oleh: B.S. Sidjabat

Pengantar
Sebagai orang Kristen kita percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Mesias yang mengerjakan penebusan dan pengampunan dosa bagi segenap umat manusia (Yoh 3:16; 1Pet 2:24; 1Kor 15:3-5). Atas dasar kesaksian Alkitab, kita juga bahkan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia ilahi dan sekaligus manusiawi secara sempurna, penuh kasih sayang dan anugerah (Yoh 1:1-3, 14, 18). 



Injil mengemukakan bahwa barangsiapa yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya, berarti berkedudukan dan berperan sebagai murid-Nya. Dalam kedudukan sebagai murid, kita didesak untuk terus mengikut Dia, menyangkal diri dan memikul salib (1Yoh 2:6; Mrk 8:34-35). Sebagai murid Kristus pun kita didorong untuk terus bertekun mempelajari kebenaran yang diajarkan-Nya. Sebab, kebenaran yang diajarkan Yesus adalah kebenaran yang sanggup mengerjakan perubahan hidup (Yoh 8:31-32; 17:17). 

Yesus acapkali disapa sebagai Guru (Rabbi). Dalam Yoh 13:13 bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia memang adalah Guru dan Tuhan. "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan." Karena Dia adalah Guru dan Tuhan, maka sebagai murid-murid-Nya kita harus mengikuti teladan-Nya. Artinya, pemikiranNya, sikap dan gaya hidup-Nya semua itu mewarnai pola pikir, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Saat Yohanes kepada gereja mula-mula tegas mengatakan bahwa siapa yang mengaku Yesus Tuhan ia wajib hidup sama seperti Dia telah hidup. "Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1Yoh 2:6). Rasul Paulus menegaskan bahwa kalau kita sudah menerima Yesus maka hidup kita, pikiran dan karya kita, harus berakar, berdasar dan dibangun di atas Dia. "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia..." (Kolose 2:6-7). Kepada jemaat di Filipi, Paulus menyatakan agar mereka berpikir, merasa seperti Kristus sendiri telah mendemonstrasikannya (Flp 2:5)

Beberapa Studi Sekitar Pemikiran Yesus Kristus
Pandangan di atas membawa kita kepada pengertian bahwa dalam memahami prinsip dan praktik pelayanan di dalam atau melalui gereja pun hendaknya model Kristus Yesus Sang Guru itu mengilhami diri kita. Kajian terhadap pengajaran dan pemikiran bahkan gaya hidup Yesus sebagai pribadi telah banyak mengilhami teolog, penginjil, konselor bahkan pendidik Kristen. John Howard Yoder misalnya, terpesona sekali terhadap sikap Yesus bagi orang-orang miskin dan bagaimana Ia menghadapi kuasa dan penguasa di zaman-Nya. Dalam The Politics of Jesus, Yoder mengungkapkan apa artinya Yesus datang memberitakan Injil Kerajaan Allah bagi kaum miskin. Yoder menyimak bahwa Yesus banyak sekali memperhatikan aspek sosial, politis dan etis Kerajaan Allah itu sendiri, yang patut kita renungkan dan teladani. Kerajaan Allah tidak saja memiliki dimensi vertikal, hubungan manusia dengan Tuhan melainkan juga mencakup relasi dan perdamaian manusia dengan sesamanya. Penelitian Yoder membawanya kepada pemahaman bahwa Yesus Kristus adalah pembaharu kehidupan secara menyeluruh.

Pendekatan yang sama juga diikuti oleh Donald Kraybill dalam The Upside Down Kingdom -- terjemahan diterbitkan BPK dengan judul "Kerajaan Yang Sungsang." Kraybill menganalisis kehidupan Yesus berdasarkan Injil Lukas. Ia sangat terpesona menyimak bagaimana Yesus menghadapi pencobaan Iblis yang bermakna sosial dan politis serta ekonomis. Kraybill juga terpukau oleh sikap Yesus yang menjungkirbalikkan pemahaman tokoh-tokoh agama Yahudi yang menantang mereka untuk menyatakan kasih sejati terhadap kaum miskin serta keluar dari kesalehan semu dan ritual. Yesus menjalankan tugas yang diamanatkan Sang Bapa dengan pendekatan yang tidak pernah dipikirkan oleh tokoh agama dan pemerintahan sezamanNya. Karena itu mereka sangat terkejut, bingung dan bereaksi negatif. Klimaksnya ialah penyaliban Dia.

Di bidang konseling Kristen, Duncan Buchanan dalam The Counseling of Jesus memberi kesaksian bagaimana ia merubah pola pikirnya dalam strategi konseling. Di awal bukunya, Buchanan menerangkan bahwa lebih kurang 25 tahun ia mengikuti teori konseling humanistik dan behavioristik sebelum ditantang oleh seorang rekannya untuk mendalami kehidupan Yesus. Setelah menggumuli kehidupan Yesus sebagaimana diajarkan Injil, Buchanan menyimak betapa mengagumkan pendekatan konseling Yesus. Bagi Buchanan, pakar dari Afrika Selatan ini, Yesus adalah konselor teladan dan sejati! Buchanan menyatakan bahwa rahasia kuasa dan hikmat pelayanan konseling Yesus bagi banyak orang bermasalah ialah terletak pada relasinya yang dalam dan dinamis dengan Allah yang disapa "Bapa" atau "Abba." Sapaan itu menyatakan keakraban dan keharmonisan relasi. Kemudian, cara Yesus menghadapi orang yang menderita ketakutan, menghadapi kemarahan, mengatasi konflik dan pertentangan, semua mengesankan hati Buchanan. Ia tiba pada kesimpulan bahwa dalam teori, prinsip dan praktik konseling Yesus, pertobatan dan pengampunan dosa amat ditekankan sebagai dasar kemerdekaan batiniah. Karena itulah Yesus tak henti-hentinya memperkenalkan kasih Allah melalui pengajaran, kehadiran dan perbuatan kuasa-Nya (mujizat).

Selain itu, cara-cara kreatif Yesus menghadapi pribadi demi pribadi maupun kelompok dan orang banyak di dalam pelayanan-Nya, telah dijadikan Buchanan sebagai bagian dari teori konselingnya. Secara ringkas Buchanan menyimak bahwa Yesus bukanlah penganut konseling directive atau non directive sebagaimana teori konseling dewasa ini terkotak-kotak. Bagi Buchanan Yesus Kristus adalah konselor yang sedemikian rupa menuntun orang untuk mengenal dan menjadi warga kerajaan Allah di mana terdapat kebenaran yang menyembuhkan, memulihkan dan memerdekakan.

Raymond L. Cramer adalah seorang psikiater yang terpesona oleh pengajaran Yesus khususnya khotbah di Bukit yang terkenal itu (Mat 5:1-12). Dalam karyanya The Psychology of Jesus and Mental Health, Cramer mengulas banyak mengenai penyebab tidak sehatnya mental manusia, terutama oleh karena salah asuhan di masa kecil dalam keluarga dan lingkungan. Atas dasar studinya terhadap pernyataan Yesus mengenai kebahagiaan hidup, Cramer mengemukakan bahwa penegasan Yesus "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah ... berdukacita ... lapar dan haus akan kebenaran...". betul-betul merupakan dasar utama dalam pembinaan mental manusia. Penegasan-penegasan Yesus itu disimak Cramer sebagai jawaban atas kebutuhan manusia yang dilanda kecemasan, ketakutan, kesedihan, rasa kehilangan dan sejenisnya. Dalam ucapan Yesus di bukit itu, Cramer menyimak rahasia yang amat dalam bagaimana manusia dapat mengalami penyembuhan dari masalah batin maupun mental yang menghambat selama ini. Misalnya saja, berdasarkan Mat 5:3 Cramer menyimak bahwa kebahagiaan sejati didapatkan oleh siapa saja yang berada dalam situasi sulit karena bagaimanapun Allah sedang dalam perbuatan memberikan pertolongan. Allah peduli dengan derita manusia. Cramer mengaitkan hal itu dengan akar dan penyebab kecemasan dan ketakutan. Kemudian Cramer menyimak Mat 5:6 mengemukakan bahwa kepuasan yang dikemukakan Yesus dalam nats itu justru menjadi kebutuhan dasar dari orang yang tanpa alasan sering merasa terganggu kejiwaannya karena orang lain (neurotik).

Robert E. Coleman menguraikan strategi Yesus sebagai Pemberita Injil Kerajaan Allah dalam karya-karya The Master Plan of Evangelism dan The Mind of The Master. Dalam karya pertama, Coleman, dosen di Trinity Evangelical Divinity School, Amerika Serikat, menyatakan kekagumannya akan pendekatan Yesus dalam rangka memberitakan Injil 'Kerajaan Allah. Bagi Coleman, Yesus adalah model yang sejati dalam hal pemberitaan Injil. Yesus datang melakukan pemberitaan Injil melalui perkataan dan perbuatan secara terintegrasi. Selain itu, Yesus tidak bekerja sendiri (single fighter). Dia mendoakan, memilih, melatih, mendampingi, menugaskan, memberi perhatian bagi murid-muridnya. Kebersamaan dengan murid-murid yang dipilih dan dilatihNya amat penting bagi Yesus dalam karya-Nya selama tiga setengah tahun.

Dalam karya kedua, Coleman melakukan studi mendalam, juga terhadap keempat Injil, lalu mengemukakan apa Baja yang menjadi rahasia pribadi dan kehidupan Sang Pemberita Injil itu. Menurut pemahaman Coleman, Yesus mendasarkan kehidupan-Nya dalam ketergantungan dalam Bapa dan Roh Kudus. Roh Kudus menguasai kehidupan Yesus. Kehidupan doa Yesus juga menjadi teladan yang tak bisa diabaikan, jika ingin meraih sukses dan kemenangan dalam hidup dan pekerjaan. Selain itu, Yesus senantiasa berdasarkan pada Kitab Suci dalam pekerjaan-Nya. Dia benar-benar memahami arti dan dinamika Injil Kerajaan Allah itu. Selain jalan salib merupakan pilihan utama bagi diri-Nya, visi sorga dan Kerajaan Sorga juga amat terang dalam kehidupan dan pemikiran Yesus.

Bahwa Yesus adalah seorang pemimpin dan pembuat pemimpin yang sukses, diungkapkan oleh Leighton Ford dalam Transforming Leadership. Ford menyatakan bahwa rahasia kepemimpinan Yesus terletak pada ketaatan-Nya kepada yang mengutus yakni Bapa. Sekalipun Yesus adalah Mesias, namun Ia belajar dan mengembangkan strategi yang jitu dalam hal memimpin. Ford menyimak bahwa Yesus tidak mengerjakan tugas sendirian namun mencari calon pemimpin masa depan untuk mengemban misi-Nya. Karena itu Dia mengajar, melatih bagaimana mengerjakan tugas kepemimpinan, khususnya melalui kehambaan (servanthood). Yesus menegaskan kepada murid-muridNya bahwa memimpin berarti menjadi gembala, mengajar, berkhotbah guna menyatakan visi Kerajaan Allah. Dalam pemahaman Yesus, seorang pemimpin ialah seorang yang bergumul dalam hal-hal sulit, rela menghadapi berbagai resiko, namun menopang, memelihara dan membangun yang dipimpin.

Beberapa Studi Tentang Yesus Sebagai Guru
Di atas kita telah menyimak beberapa studi berkaitan dengan kehidupan dan teladan Yesus dihubungkan dengan etika, penginjilan dan konseling, berikut ini kita akan membahas beberapa karya yang menyingkapkan prinsip dan praktek Yesus sebagai pendidik dan pengajar. Romo Banawiratma dalam "Yesus Sang Guru" secara khusus mengupas pekerjaan Yesus sebagai Guru berdasarkan Injil Yohanes. Banawiratma menyimak begitu banyaknya penegasan berkaitan dengan diri dan tugas Yesus sebagai Guru di dalam Injil itu. Semua nats yang berkaitan dengan sapaan Guru dan murid dibahas. Dalam tugas-Nya sebagai Guru, Yesus menekankan kebersamaan atau persekutuan. Melalui persekutuan itu para murid melihat Yesus sebagai sosok yang penuh dengan pengetahuan, hikmat dan wibawa atau kharisma serta kedalaman spiritual. Sang Guru itu dilihat murid-murid-Nya sanggup menuntun mereka mencapai hidup dan kemuliaan. Karena itulah para murid menggantungkan diri kepada Yesus. Mereka rela belajar daripada-Nya. Sebaliknya, Yesus sebagai Sang Guru mereka, menuntut kesetiaan, kerendahan hati, iman dan percaya bahkan ketaatan sampai akhir dalam mengikuti perintah dan keteladananNya. Semua pemikiran keguruan Yesus ini diperhadapkan oleh Banawiratma dengan keguruan yang diperankan oleh guru-guru dalam komunitas kebatinan dan kejawen dalam masyarakat Jawa. Dialog itu amat mengesankan dan berguna bagi pembinaan warga gereja.

Kehebatan Yesus sebagai Pendidik maupun Pengajar telah mendorong Andar Ismail, dosen dan pakar Pendidikan Agama Kristen (PAK) STT Jakarta menulis buku-buku pembinaan warga jemaat di sekitar tema kehidupan Yesus. Dalam karya "Selamat Mengikut Dia" dan "Selamat Paskah" misalnya, diungkapkan bagaimana kehebatan Yesus dalam setiap kesempatan pekerjaan maupun pelayanan-Nya yang amat kreatif, penuh kuasa dan wibawa. Andar Ismail ingin mengajak para pembacanya untuk belajar lebih banyak dari diri Yesus Kristus yang dikisahkan dalam Injil. Dalam tulisan "Selamat Mengikut Yesus," Andar menyinggung bagaimana Yesus sebagai manusia sejati pun belajar banyak pada masa kecil-Nya. Itu juga salah satu faktor yang membuat diri-Nya tampil sebagai Pengajar yang hebat. Kemudian dalam uraian mengenai peristiwa di jalan menuju Emaus, Andar menyimak bagaimana kehebatan Yesus sebagai Pengajar menghadapi murid yang keliru, lamban dan dalam ketakutan. Dalam keadaan demikian, Sang Guru itu hadir, mendampingi, mendengar, mengajar dan bahkan melayani. Perbuatan terakhir itulah yang mencelikkan pengertian kedua murid dan segera membuat mereka berkobar-kobar menjadi saksi dari Yesus yang bangkit. Andar seolah ingin menyatakan kepada para pembacanya, betapa hebat ilmu dan filsafat mengajar Sang Mesias itu! Itu patut dan harus diteladani!

Dalam tulisannya yang lain, Witnessing for Jesus secara jelas ia mengemukakan siapa Yesus yang perlu kita beritakan melalui kehidupan. Menurutnya, Yesus itu unik dalam kepribadian, dalam kehidupan bahkan pengajaranNya. PengajaranNya transformatif, mengubah hidup. Dalam satu bagian karya itu, ia mengatakan: "Yesus itu unik. Dia menawarkan dasar hidup dan sikap baru. Dia menghadirkan pendekatan baru terhadap hubungan manusia dengan Allah serta dengan sesama-Nya. Dengan berjalan di belakang Yesus, kita akan hidup secara berbeda, dalam arti lebih tulus dan lebih manusiawi. Sebab dalam Yesuslah kita simak kemanusiaan sejati yang tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Allah dan sesama-Nya. Dalam Yesus kita lihat model bagi pandangan dan praktek kehidupan. Dengan mengikut Yesus, kita dapat hidup dengan suatu kehidupan oleh pertolongan Allah guna mampu menolong sesama." Pemikiran inilah yang mendasari gagasannya mengenai strategi bersaksi bagi Yesus melalui gereja di dalam dunia, agar rela menanggung harga dan juga menunaikan tugas kesaksian melalui pendidikan.

Herman H. Horne dalam karya klasiknya Teaching Techniques of Jesus mendasarkan pemikirannya mengenai pendidikan dan pengajaran pada prinsip pengajaran Yesus guna menolak gagasan pendidikan John Dewey yang amat humanis masa itu di Amerika. John Dewey menolak pelajaran agama Kristen diberikan di sekolah umum. Bagi Dewey sekolah harus mengarahkan anak didik menjadi dirinya sendiri oleh kekuatan yang ada padanya. Para guru di sekolah harus belajar teori dan praktek keguruan dari sumber-sumber ilmiah dan rasional, bukan dari tradisi agama Kristen. Sebaliknya bagi Horne, kehidupan dan ajaran Yesus harus menjadi dasar filsafat guru Kristen. Dalam rangka pembentukan filsafat itu, Horne mengemukakan bahwa peristiwa di mana Yesus mengajar seorang wanita di Samaria dan menuntunnya dari kebodohan kepada keputusan menerima Sang Mesias, merupakan perbuatan yang menakjubkan. Horne terpesona terhadap pendekatan Yesus yang akrab, simpati, dan empati, bersifat mendorong dan menantang hingga mendesak untuk mengambil keputusan atau pilihan yang tepat. Banyak lagi bagian kitab Injil yang menarik perhatian Horne berkaitan dengan tugas Yesus sebagai Pendidik dan Pengajar. Berdasarkan penelitiannya terhadap nats keempat Injil, Horne membangun pemahamannya atas dasar bagaimana Yesus menarik perhatian murid atau audiens-Nya; membangun jembatan komunikasi; merumuskan dan mencapai tujuan-Nya; mengajukan dan menyelesaikan masalah; bercakap-cakap secara pribadi; bertanya dan menjawab pertanyaan; menguraikan pengajaran; mengemukakan contoh atau ilustrasi; menggunakan Kitab Suci; memakai situasi menjadi bahan pengajaran; memulai pengajaran; membuat perbandingan; memberi nilai terhadap apa yang diamati; menggunakan simbol; menghadapi pribadi, kelompok, maupun massa; mendorong dan bahkan mengajar anak-anak.

J.M. Price, dalam karya "Yesus Sang Guru" mengetengahkan kekagumannya juga terhadap pribadi dan praktek Yesus khususnya sebagai pengajar. Ada empat hal yang menarik yang dikemukakan oleh Price dari studinya terhadap hidup dan pekerjaan Yesus sebagai pengajar. Pertama,wewenang Yesus sebagai pengajar. Wewenang Yesus sebagai pengajar nyata dari pernyataan-Nya, pernyataan murid-murid dan pengakuan orang lain, seperti Nikodemus seorang tokoh Farisi (Yoh 3:1-2). Wewenang itu nyata pula dalam perbuatan kasih-Nya bagi banyak orang. Dia mengajar atas dasar Firman Allah serta secara cakap membaca hati orang-orang yang dihadapiNya. Kedua, kehebatan Yesus dalam menghadapi murid-murid-Nya dengan latar belakang yang berbeda. Murid-murid yang Dia latih dan bina, menurut Price ialah pribadi dan kelompok yang belum berkembang, impulsif, berdosa, kacau pikiran, bodoh, berprasangka dan tidak stabil. Ketiga,Price menyimak Yesus sebagai pribadi yang mengajar secara terus terang dengan tujuan yang jelas pula. Tujuan Yesus dalam mengajar ialah membentuk cita-cita luhur dalam diri para murid-Nya, membentuk keyakinan yang teguh, memiliki hubungan dengan Allah dan sesamanya. Para murid didorongNya agar kreatif menghadapi masalah hidup sehari-hari dan memiliki watak yang bagus dalam menjalankan tugas pelayanan. Pengajaran Yesus berhasil dalam rangka mengangkat derajat para murid, mengubah kehidupan mereka agar percaya kepada-Nya. Keempat,Yesus adalah pengajar dengan visi yang jelas dan besar yakni berkaitan dengan Kerajaan Allah. Menurut Price, Yesus senantiasa menyesuaikan pengajaran-Nya dengan keadaan dan kebutuhan para murid. Dia menyentuh suara hati mereka serta merangsang mereka untuk aktif berbuat. Bahan pengajaran Yesus diambil dari Perjanjian Lama diintegrasikan dengan peristiwa alam dan peristiwa yang hangat yang sedang terjadi. Dia menggunakan pepatah, ilustrasi, perumpamaan dalam memulai atau dalam menjalankan pengajaran. Bagi Price, susunan pengajaran pengajaran Yesus amat menarik, diawali pendahuluan, isi dan kesimpulan. Singkatnya, menurut price, metode Yesus amat variatif karena mencakup cerita, ceramah dan tanya jawab.

Suster Regina M. Alfonso membuat kajian yang begitu teliti terhadap nats Alkitab dalam Injil untuk mengetengahkan bagaimana tehnik Yesus dalam mendidik dan mengajar. Dalam How Jesus Taught: The Methods and Techniques of the Master, Alfonso mengemukakan alasan hingga begitu terpesona terhadap teknik pendidikan dan pengajaran Yesus. Selama dua belas tahun mendalami Injil ditambah pengalaman mengajar selama tigapuluh enam tahun di berbagai tingkat pendidikan, ia bertambah yakin bahwa tehnik pekerjaan Yesus Sang Guru amat relevan dengan dunia pendidikan masa kini.

"The teaching methods of Jesus are just as effective today as they were when he used them. His ideas are applicable for teachers of all levels and all areas of the curriculum, since sound principles built on the knowledge of learning and learners should be applied by any teachers".

Dari keempat Injil Regina menyusun bukti-bukti dalam situasi atau kesempatan apa saja Yesus mengajukan atau menjawab pertanyaan, memakai ilustrasi atau perumpamaan, menarik perhatian dan sejenisnya yang berkaitan dengan teknik mengajar. 

Pada awal tabun 90-an, Matt Friedeman (The Master Plan of Teaching, 1990) mengetengahkan hasil kajiannya mengenai keteladanan Yesus sebagai guru. Pertama, Friedeman memahami bahwa Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (inkarnasi) dan sebab itu Ia seratus persen manusiawi. Apakah artinya ini? Menurut Friedeman,sebagai guru kita harus meneladani Yesus Sang Guru dalam hal kuasa dan hikmat yang berasal dari Roh Allah. Kebergantungan Yesus yang amat sempurna kepada Allah Bapa itu harus mewarnai pola pikir dan sikap kita jika ingin berhasil dalam tugas mengajar atau mendidik. Selain itu, teladan Yesus sebagai manusia sejati yang rela belajar, harus mendorong kita untuk rela berlatih, belajar mengembangkan diri dalam karunia yang Allah berikan guna mengajar orang lain. Kedua, Friedeman menyimak bahwa sebagai Guru Agung, Yesus tahu apa Yang diperbuat-Nya dan mengerti bagaimana melaksanakan atau mewujudkannya. Yesus pun berkarya atas dasar tujuan yang jelas, yakni membina murid agar mengerti serta mengalami kekudusan Allah. Murid diajarNya agar menyadari diri sebagai hamba. Murid pun diajar agar hidup dalam relasi kasih dengan sesamanya. Friedeman menegaskan model ini untuk terus kita ingat dan kembangkan. Sebagai guru, kita adalah hamba yang melayani sesama, serta mengarahkan mereka berdamai dengan Allah. Ketiga, bagi Friedeman cara Yesus melaksanakan tugas-Nya sebagai Guru amat mengagumkan. Yesus memang unik namun Dia menjadi sama dengan (identifikasi) murid-murid-Nya dan dengan orang-orang lain yang dilayaniNya. Dia membaca apa kebutuhan mereka, pergumulan serta tingkat pengertian mereka. Dia "menjadi satu" dengan berita yang disampaikan. Karena itu, menurut Friedeman, tidak heran mengapa Yesus begitu berotoritas. Hal itu tampak dalam pernyataan-Nya: "Aku berkata kepadamu..." atau "Aku adalah..." Teladan Yesus dalam kerelaan menjadi sama dengan orang yang dilayani ini, menurut Friedeman merupakan perkara yang harus berkembang dalam hati seorang guru jika ia hendak membawa pembaruan. Keempat,Friedeman menyimak bahwa Yesus senantiasa mengarahkan murid mencapai target dalam hal apapun yang diperbuat mereka. Relasi di antara murid merupakan komunikasi itu sendiri. Artinya, relasi tidak hanya sebatas kata, ucapan dan peristiwa sewaktu-waktu. Kebersamaan di antara Yesus dan murid-murid-Nya adalah komunikasi dan relasi. Selain itu waktu dalam kebersamaan, bagi Yesus amatlah penting dalam rangka mewujudkan cita-cita-Nya. Dalam mengajar, Yesus membuat murid-murid aktif dan senantiasa di dalam keaktifan, apakah berpikir, merasa dan memberi respons serta berbuat. Dia mengajar sambil berjalan dan berbuat. Dia pun mengajar melalui perbuatan nyata seperti mujizat, diskusi dan tanya jawab. Dia senantiasa memberi dorongan untuk bertindak. Friedeman menyimak teladan ini harus mendasari nilai hidup dan pemikiran guru. Artinya, dalam perbuatan mendidik maupun mengajar, guru harus menekankan kebersamaan, keaktifan dengan tujuan jelas. Kelima,Friedeman mengungkapkan bahwa Yesus tidak saja mendekati dan melayani orang banyak (massa) melainkan juga memberi perhatian bagi kelompok kecil hingga ke pribadi lepas pribadi. Dalam mencapai dunia dengan Injil, Dia nadir di Palestina di kalangan umat Yahudi. Di kalangan umat itu, Yesus mempunyai kelompok pengikut besar seperti kelompok 5000 orang, 4000 orang, 500 orang, 70 orang, 12 orang hingga ke pribadi-pribadi inti yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus. Apakah artinya ini? Menurut Friedeman, strategi membawa perubahan tidak dapat dilakukan hanya dengan satu pendekatan. Setiap kesempatan berinteraksi dengan manusia apakah pribadi atau kelompok bahkan dengan massa, mesti diupayakan dengan baik dan tepat. Dewasa ini guru juga dapat mempunyai kelompok inti dan kelompok kecil yang dapat ia jadikan sebagai pembawa pengaruh besar dalam artian positif.

Howard G. Hendricks dalam tulisannya Following The Master Teacher (dalam The Christian Educator's Handbook on Teaching, 1988) mengemukakan empat hal yang patut bahkan harus diteladani dari diri Yesus Kristus Sang Guru. Pertama, guru mesti meneladani Dia sebagai pribadi kongruen, realistis dan relasional. Kedua, guru perlu mencermati Dia yang punya berita yang berasal dari Bapa, relevan bagi manusia, orotitatif dan efektif. Ketiga, guru patut memahami Dia yang kreatif mendorong atau membangun semangat dengan kasih, penerimaan dan peneguhan (afirmasi). Keempat, guru harus meneladani Dia yang mengajar dengan metoda kreatif seperti terlihat dalam pertanyaan dan perumpamaan-Nya, bersifat unik, memikat dan berkembang.

Lebih Dari Guru Biasa
Setelah melihat contoh-contoh bagaimana orang membangun pemikiran dan pemahamannya tentang pekerjaan berdasarkan keteladanan Yesus, menurut penulis kita juga harus mendalami Injil untuk mengerti pribadi dan kehidupan Yesus sebagai Pendidik maupun Pengajar. Penulis ingin menyajikan suatu gagasan secara garis besar untuk dapat dikembangkan pembaca secara lebih jauh. Sapaan terhadap Yesus sebagai Rabbi (Aram) artinya "mengajar" (Yun.: didaskalos). Dalam Injil Lukas, Yesus malah disapa sebagai epistata, sebutan resmi bagi seorang pejabat, pengawas dan penguasa serta pemelihara. Hal ini terlihat dalam konteks Yesus dimuliakan si atas gunung (Luk 9:33); dalam konteks kecemasan para murid (Luk 9:49); dalam konteks setelah angin ribut diredakan (Luk 8:24); dalam konteks pemanggilan beberapa penjala ikan (Luk 5:5); dan dalam konteks seorang kusta meminta kesembuhan (Luk 17:13). Tampaknya Lukas ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah pribadi guru berotoritas, bukan hanya sebagai pengajar biasa layaknya orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman-Nya. Memang, di samping sapaan sebagai epistata tadi, Yesus juga dipanggil sebagai didaskale sebagaimana terdapat juga dalam tulisan Lukas lainnya (7:40; 9:38; 10:25; 11:45; 12:13; 18:18; 19:39; 20:21,28,39; 21:27).

Injil Matius menggunakan sapaan kyrie yang berarti "Tuhan," terhadap Yesus sebagai guru (8:25; 17:15). Menurut Matius, murid-murid memandang Yesus bukan saja sebagai guru biasa namun juga sebagai Tuhan yang berkuasa. Matius memang tidak mengabaikan sapaan Yesus sebagai Rabbi seperti oleh Yudas Iskariot (Mat 26:25,49) dan sebagai didaskale oleh orang banyak (Mat 19:16; 22:16,24,36). Yang menarik lagi ialah bahwa Matius mencatat otoritas Yesus atas diri-Nya sebagai Rabbi. Mereka tidak diperbolehkan oleh Yesus untuk dipengaruhi oleh para rabbi lain (Mat 23:8-10). Matius hendak menegaskan bahwa hanya Yesus saja Rabbi yang berotoritas dan di luar Dia tidak ada. Sesama murid adalah saudara.

Dalam Injil Markus, Yesus juga disebut sebagai Rabbi oleh para murid. Misalnya oleh Petrus dalam konteks peristiwa di atas gunung (Mrk 9:5); juga oleh murid ketika mereka melihat bagaimana pohon ara yang dikutuki Yesus menjadi layu (Mrk 11:21); serta oleh Yudas di taman Getsemani (Mrk 14:45). Orang buta yang meminta kesembuhan, menurut Markus malah menyapa Yesus sebagai rabbouni (Aram) (Mrk 10:51). Sapaan sebagai didaskale selain digunakan oleh para murid (4:38; 9:38; 10:35; 13:1), juga diungkapkan oleh orang-orang luar (9:17; 10:17,20; 12:14,19,32). 

Dalam Injil Yohanes, Yesus disapa oleh para murid sebagai didaskale (Yoh 1:38; 20:16); sebagai rabbi (Yoh 1:38, 49; 4:31; 9:2; 11:8). Orang luar rnenyapa Yesus sebagai rabbi pula (3:2; 6:25). Satu sebutan rabbouni dari wanita yakni Maria Magdalena (Yoh 20:16). Bahwa Yesus adalah Pendidik dan Pengajar berotoritas tampak pula dalam kalimat hikmat dan kuasa-Nya. Hal tersebut dinyatakan melalui berbagai kesempatan. Dia menyatakan melalui pengajaranNya yang berkuasa dan menantang serta berwibawa (Mat 11:16-19,25f, 12:42; 23:37-39; 11:28-30). PengajaranNya lain dari ajaran para rabbi Yahudi sezamanNya, karena Yesus mengungkapkan pesan-pesan bermakna eskatologis di sekitar tema kedatangan Anak Manusia di dalam kemuliaan-Nya (Mat 7:26-29; 24:35; Mrk 8:38).

Kitab Injil juga mengetengahkan bahwa konteks pengajaran Yesus bervariasi. Seringkali Ia mengajar di sinagoge ketika ibadah pada hari Sabat (bdk. Luk 4:16-17). Dalam peristiwa semacam itu Dia mendapat tugas apakah membaca dan menguraikan isi Kitab Suci. Kalau Kitab Suci yang Dia baca berbahasa Ibrani, maka Ia berkhotbah menerjemahkan dan menguraikan isi kitab dalam bahasa Aram. Kadang-kadang Ia juga bertindak sebagai imam. Ketika berdebat dengan tokoh-tokoh agama Yahudi, Yesus memberikan jawaban dan pengertian-pengertian baru dalam bahasa Aram, Ibrani bahkan Yunani. Lihat saja misalnya penjelasan Yoh 12:20-36 ketika orang-orang Yunani ingin bertemu dengan Dia. Yesus pun mengajar ketika memberitakan Injil terhadap orang banyak dengan tekanan pada tema kasih dan Kerajaan Allah (Mat 4:13; 9:1; Mrk 1:29; 2:1f). Jadi, pemberitaan Injil dapat dilakukan dengan pendekatan mengajar! Dalam konteks pemuridan atau tepatnya melatih dan membentuk murid-murid, Yesus banyak sekali mengajar (Mrk 1:16-20; Luk 9:52-62). Dia menegur mereka bila keliru; Dia meluruskan pikiran mereka yang bengkok dan menegaskan apa yang telah mereka mengerti. Akhirnya kita lihat pula dalam Injil bahwa Yesus mengajar murid-murid secara khusus, di mana mereka mendengar, melihat dan mencontoh Dia. Dalam proses pemuridan, loyalitas terhadap Dia sangat ditekankan (Mrk 3:13-19; 23:9-10). 

Sebagai Guru, Yesus menetapkan aturan etis di antara para murid. Ada etika relasi ditekankan. Sesama murid harus belajar menerima sebagai saudara di antara satu sama lain. Tidak ada yang memandang diri lebih besar (Mat 18:13; 20:20-28; Mrk 10:35-45). Tidak heran bila gagasan ini mengilhami Paulus di kemudian hari yang mendesak jemaat Kolose agar berakar dalam Firman Tuhan sehingga dapat saling membangun dan mengajar (Kol 3:15,16). Dalam konteks pendidikan dan pengajaran-Nya, Yesus melakukan tugas pengutusan. Para murid yang mendapat contoh, pengajaran, kuasa dan hikmat dari Dia diutus untuk mendemonstrasikan di tengah-tengah bangsa Israel sendiri. Hal ini merupakan persiapan mereka kelak apabila secara penuh memberitakan Injil Kerajaan Allah (Mat 10; Mrk 6:6-11; Luk 9:1-5; 10:1-12). Jadi, Yesus benar-benar sebagai Guru yang menekankan praktik, bukan hanya pada teori atau pengajaran. 

Isi ajaran Yesus sebagaimana dikemukakan oleh kitab Injil sangat kaya. Artinya, dalam Kitab Injil kita melihat bahwa Yesus mengajar murid dan para pendengar-Nya untuk mengenal, mengerti, memahami bahkan mengalami relasi yang indah dengan Allah yang dapat disapa sebagai "Abba" atau "Bapa." Ajaran Yesus mengenai Allah sebagai Bapa, sebagai Pencipta dan sebagai Raja yang penuh kasih namun tegas dan konsisten, amat mengesankan murid-muridNya. Yesus memperjelas arti, dimensi dan dinamika Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga pula kepada murid-murid dan audiens-Nya. Melalui pengajaran langsung, melalui perumpamaan, bahkan melalui perbuatan kasih dan kuasa, Yesus menyatakan berbagai tanda kedatangan Kerajaan Allah itu. Tak kalah pentingnya ialah bahwa dalam ajaran Yesus, Dia memperkenalkan siapa diriNya; terkadang dengan sebutan Anak, Anak Manusia dan Utusan Bapa. Misalnya dalam Injil Yohanes, berulangkali Yesus menegaskan, "Aku adalah...." (Yun.: ego eimi). Di samping itu, Dia nyatakan diri-Nya melalui perbuatan kasih dan keajaiban. Misalnya, air berubah menjadi anggur, seorang lumpuh di tepi kolam Betesta dapat berjalan dan seorang buta dapat melihat serta seorang yang mati dan terbaring di kubur selama empat hari dapat bangkit kembali.

Yesus sangat menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan manusia. Dia mengajarkan siapa dan apa perbuatan Roh Kudus bagi murid-muridNya secara khusus (Yoh 14:25-26; 16:11-13). Dia juga menyatakan bahwa hujat terhadap Roh Kudus merupakan dosa yang tidak terampuni karena dengan begitu orang tidak sadar lagi terhadap dosanya dan mengenai perlunya ia menyambut anugerah Allah (Mat 12:28). Dia juga mendesak agar murid-muridNya berdoa untuk kedatangan Roh Kudus. Yesus juga mengajarkan banyak perkara mengenai manusia, keadaan, asal mula dan tujuan akhir dari kehidupan. Manusia diajak, untuk mengenal kekuatan dan kelemahannya yang penuh dengan dosa dan kejahatan (Mrk 7:15-23). Manusia harus menerima kasih Allah agar dirinya bermakna dan berharga. Manusia harus mengutamakan Yesus, Anak Allah itu dalam hidupnya, serta menjadikan Dia di depan setiap langkahnya, agar hidupnya menjadi terarah dan berarti. Manusia tidak saja dipanggil mengasihi Allah tetapi juga mengasihi sesamanya sebagai diri sendiri (Mat 22:37-39). Berita Injil itu harus disampaikan juga kepada sesamanya, agar mereka juga diselamatkan (Mat 28:18-20).

Ajaran Yesus tidak saja menyangkut soal dogma atau doktrin. Dia juga memberikan pengajaran berkaitan dengan ibadah, seperti doa, memberi sedekah dan berpuasa. Dia tidak menginginkan orang percaya beribadah secara lahiriah namun batin mereka penuh kecemasan dan kekuatiran (Mat 6:1-34). Dia mengajar audiens-Nya, agar tidak membatasi ibadah kepada hal-hal ritual melainkan juga pada perbuatan kasih secara nyata. Di samping itu, Yesus pun mengajarkan bahwa orang harus mempersembahkan dirinya dengan kasih kepada Tuhan sebagai bagian dari ibadahnya. Dengan cara yang sama, Yesus mendidik murid-murid-Nya sebagaimana menggunakan harta, kekayaan, uang dan waktu secara kreatif bagi Tuhan dan bagi sesama. Dia tidak mengajarkan agar orang diperbudak uang, melainkan memahami nilai uang dari sudut nilai Kerajaan Allah yang kekal (Luk 16:9-12). Uang harus digunakan untuk menyatakan tanggung jawab terhadap negara juga terhadap Tuhan (Mrk 12:13-17). Herbert Lockyer dalam All The Teachings of Jesus sangat komprehensif membicarakan apa Baja yang menjadi isi atau bahan pengajaran Yesus Sang Guru Agung itu.

Metode mengajar Yesus yang berkesan dari Kitab Injil, sebagaimana dikemukakan oleh Donald Guthrie, dalam A Shorter Life of Christ, amat kreatif, bervariasi dan penuh hikmat serta kuasa. Guthrie menyimak bahwa dalam mengajar beberapa karakter penting dari Yesus sangat nyata dan penting sebagai pemikiran bagi kita yakni: (a) Penyesuaian diri-Nya yang tinggi terhadap audiens; (b) Pemakaian retorika dalam pengajaran-Nya; (c) Pemakaian logika dalam dialog atau tanya jawab; (d) Pengulangan gagasan untuk menekankan kebenaran; (e) Yesus tak lupa menggunakan berbagai ilustrasi; (f) Yesus senantiasa tak ketinggalan dengan humor: (g) Yesus pun memakai puisi; (h) PemakaianNya yang amat sering terhadap nats atau gagasan Perjanjian Lama dalam khotbah dan diskusi; (i) Warna dan bentuk-bentuk perumpamaan-Nya. 

Yesus sebagai Pendidik melebihi tri tugas pendidikan yang kita kenal di Indonesia. Pendidikan di Indonesia mengenal tugas guru yang harus berada di depan, di tengah-tengah atau di antara serta di belakang murid-murid-Nya. Membaca keempat Injil, Kita akan kagum menyimak bahwa Yesus lebih daripada itu. Mengapa demikian? Pertama, Yesus memang berada di depan murid-murid-Nya untuk menjadi teladan. Dia memimpin mereka dalam berbagai perjalanan. Dia menghadapi tokoh-tokoh agama Yahudi di depan murid-murid-Nya. Kedua, Yesus memang berada di tengah-tengah para murid karena membina mereka melalui persahabatan dan persekutuan yang indah dan hangat. Yesus tinggal bersama-sama dengan murid-murid-Nya dari kelompok duabelas secara khusus. Para rasul pada kemudian hari tak melihat satu kesalahan atau kejahatan pun ada pada diri Yesus Kristus (bdk. 1 Pet. 2:24;3:18). Ketiga, Yesus berada di belakang mereka, memberikan arahan, dorongan, koreksi bahkan pengawasan. Ketika para murid menaiki perahu di danau Galilea, dari kejauhan Yesus mendoakan mereka. Ia tahu kalau mereka berada dalam bahaya karena diterpa oleh angin ribut. Seketika Baja Yesus datang memberikan pertolongan. Akhirnya, Yesus berada di dalam mereka melalui kehadiran Roh Kudus. Hal ini semakin nyata setelah masa kebangkitan dan kedatangan Roh Kudus (hari Pentakosta). Karena itu, Yesus menegaskan bahwa hubungan-Nya dengan murid ialah seperti pokok anggur dengan rantingnya. Yesus ingin berdiam di hati murid-murid dan sebaliknya para murid juga harus tinggal di dalam Dia, dalam kasih dan firman-Nya sehingga hidup mereka berbuah banyak, guna mempermuliakan Allah Bapa (Yoh 15:4-16). Paulus memahami tugas ini sehingga ia menyatakan kepada jemaat di Kolose bahwa Kristus Yesus ada di tengah-tengah mereka (Kol 1:27). Paulus sendiri merasakan kuasa Yesus dalam dirinya dalam segala keadaan (Kol 1:28,29; Gal. 2:19-20).

Dapat disimpulkan bahwa pribadi dan kehidupan serta pengajaran Yesus Sang Guru Agung amat mengesankan. Penulis malah menjadikan gagasan ini sebagai dasar filsafat pelayanan khususnya filsafat pendidikan. Tema kajian Yesus Sang Guru, telah lama menjadi pokok yang tidak henti-hentinya penulis dalami. Penulis mengimbau para pembaca yang budiman untuk merenungkan kehidupan Yesus Sang Guru sebagai sumber inspirasi bagi tugas dan pekerjaannya. Dialah sosok ideal yang harus kita tiru. Bukan hanya menjadi teladan kita, tetapi Dia juga adalah Pribadi yang sempurna yang mampu menanamkan benih kesempurnaan itu dalam diri kita, agar kita hidup sempurna sebagaimana kehendak Allah (Mat 5:48). Di dalam Dia dan oleh Dia kita menemukan keutuhan hidup. Di dalam dan melalui Dia pula kita mengerti dan memahami makna sesungguhnya menjadi manusia. Bahwa kita mampu mengerti hal demikian oleh karena Yesus Kristus, menyatakan bahwa Dia memang Pendidik dan Pengajar ulung.

Referensi:

Alfonso, Regina M. How Jesus Taught: The Methods and Techniques of The Master. Alba House, 1986.
Banawiratma, J.B., Yesus Sang Guru Pertemuan Kejawen Dengan Injil. Kanisius, 1977.
Buchanan, Duncan. The Counseling of Jesus. IVP, 1972.
Coleman, Robert E. The Master Plan of Evangelism. Revell, 1970.
Cramer, Raymond L. The Psychology of Jesus and Mental Health. Zondervan, 1959.
Ford, Leighton. Transforming Leadership. IVP, 1991.
Fiedeman, Matt. The Master Plan of Teaching. Victor, 1990.
Guthrie, Donald. A Shorter Life of Christ. Zondervan, 1970.
Hendrics, Howard G. "Following The Master Teacher." The Christian Educator's Handbook on Teaching (K.O. Gangel & H.G. Hendricks eds.). Victor, 1988.
Home, Herman. Teaching Techniques of Jesus, 1920.
Ismail, Andar. Selamat Paskah. BPK, 1995
_______, Selamat Mengikut Dia. BPK, 1994.
_______, Witnessing for Jesus. BPK, 1994.
Kraybill, Donald B. Kerajaan yang Sungsang. BPK, 1993.
Lockyer, Herbert. All The Teachings of Jesus. Harper, 1991.
McKenna, David. The Jesus Model. Wordbook, 1977.
Price, J.M. Yesus Sang Guru. (Terj.) LLB, 1975.
Riesner, R. "Teacher," Dictionary of Jesus and The Gospels. IVP, 1992.
Sidjabat, B.S. Menjadi Guru Profesional. Kalam Hidup, 1994.
Yoder, J.H. The Politics of Jesus. Eerdmans, 1972.